- Back to Home »
- sejarah »
- Pengertian sastra dan periodisasi sastra indonesia
Posted by : Unknown
Selasa, 13 Januari 2015
assalamualaikum wr wb
salam sejahtera sejahtera bagi kita semua.
berbicara tentang sastra,
tentunya belum afdhol nih kalau tidak mengetahui para pelaku sastra beserta
karya-karyanya pada peradaban sastra di indonesia atau sering dikenal dengan periodisasi
sastra.
Akan tetapi, sebelum
membahas periodisasi sastra mari kita bahas secara singkat mengenai sastra itu
sendiri.
Pengertian Sastra
Sastra
berasal dari kata castra berarti tulisan. Dari makna asalnya
dulu, sastra meliputi segala bentuk dan macam tulisan yang ditulis oleh
manusia, seperti catatan ilmu pengetahuan, kitab-kitab suci, surat-surat,
undang-undang dan sebagainya.
Sastra
dalam arti khusus yang kita gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi
gagasan dan perasaan manusia. Jadi, pengertian sastra sebagai hasil budaya
dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya
melalui bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya.
Dalam
perkembangan berikut kata sastra sering dikombinasikan dengan awalan “su”
sehingga menjadi susastra, yang diartikan sebagai hasil ciptaan yang baik dan
indah..[1]
Dalam
konteks kesenian,kesustraan adalah salah satu bentuk atau cabang kesenian,yang
menggunakan media bahasa sebagai alat pengungkapan gagasan dan perasaan
senimannya, sehingga sastra juga disamakan dengan cabang seni lain seperti seni
tari,seni lukis, dan sebagainya.
. Pengertian
Sastra dari Segi Ilmu Sastra
Ada tiga hal yang berkaitan dengan pengertian sastra, yaitu ilmu
sastra teori sastra dan karya sastra. Ilmu sastra adalah ilmu pengetahuan
yang menyelidiki secara ilmiah berdasarkan metode tertentu mengenai segala hal
yang yang berhubungan dengan seni sastra.
Pengajaran
tentang sastra biasanya bersumber dari pengetahuan tentang sastra. Pengetauhuan
tentang sastra atau yang dikenal pula sebagai literary studies, oleh para ahli
dibagi menjadi tiga cabang, yakni: teori sastra, sejarah sastra dan kritik
sastra.[2]
Ilmu sastra
sebagai salah satu aspek kegiatan sastra meliputi hal-hal berikut :
- a. Teori
sastra,yaitu cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang asas-asas
hokum-hukum,prinsip dasar,seperti struktur,sifat-sifat,jenis-jenis, serta
sistem sastra.
- b. Sejarah
sastra,yaitu ilmu yang mempelajari sastra sejak timbulnya hingga
perkembangan yang terbaru.
- c. Kritik
sastra,yaitu ilmu yang mempelajari karya sastra dengan memberikan
pertimbangan dan penilaian terhadap karya sastra.kritik sastra dikenal
juga telaah sastra.
Ketiga cabang ilmu tersebut
tentunya mempunyai keterkaitan satu sama lain dalam rangka memahami sastra
kesuluruhan(timbal-balik).
Sejarah Sastra
Kepulauan
Nusantara yang terletak diantara benua Asia dan Australia dan diantara Samudra
Hindia/ Indonesia dengan Samudra Pasifik/ Lautan Teduh, dihuni oleh
beratus-ratus suku bangsa yang masing-masing mempunyai sejarah, kebudayaan,
adat istiadat dan bahasa sendiri-sendiri.
Bahasa
Indonesia berasal dari bahasa melayu yaitu salah satu bahasa daerah di
Nusantara. Bahasa Melayu digunakan oleh masyarakat Melayu yang berada di pantai
timur pulau Sumatera. Kerajaan Melayu yang berpusat didaerah Jambi, pada
pertengahan abad ke-7 (689-692) dikuasai oleh Sriwijaya yang beribu kota di daerah
Palembang sekarang ini.
Periodisasi
Sastra Indonesia
Periodisasi sastra ialah pembagian sastra atau pembabakan sastra
berdasarkan atas kurun waktu atau zamannya. Terjadinya periode sastra karena
terjadinya perubahan zaman, pola pikir, serta gaya hidup yang akhirnya
menghasilkan perubahan hasil sastra.
Setiap
angkatan dalam suatu periodisasi sastra pasti memiliki karakteristik tersendiri.
Jadi tidak menutup kemungkinan kalau kita melihat terlebih dahulu tentang
pengertian kata karakteristik. Karakteristik berasal dari kata
dasar “karakter”. Menurut poerwadarminta (1984:445) karakter adalah tabiat,
watak, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang
dengan yang lain. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
karakteristik adalah 1 a ciri-ciri khusus ; 2 a mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu[3]
Berikut periodisasi sastra
Indonesia beserta karyanya :
PERIODISASI
SASTRA
- Angkatan Pujangga
Lama
- Angkatan Sastra
Melayu Lama
- Angkatan Balai Pustaka
- Angkatan Pujangga
Baru
- Angkatan 1945
- Angkatan 1950 -
1960-an
- Angkatan 1966 -
1970-an
- Angkatan 1980 -
1990-an
- Angkatan Reformasi
- Angkatan 2000-an
- Angkatan Pujangga Lama
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di
Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di
dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di
Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi
sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera
bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya
keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara
penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan
Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling
terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf
Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.
Karya Sastra Pujangga Lama :
Sejarah
- Sejarah Melayu (Malay Annals)
Hikayat
|
|
Syair
- Syair Bidasari
- Syair Ken Tambuhan
- Syair Raja Mambang Jauhari
- Syair Raja Siak
Gurindam Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji
Kitab agama
- Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para
Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
- Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia
para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
- Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada
kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
- Bustan as-Salatin (Taman
raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri
2. Angkatan Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang
dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat
Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan
daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya
sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat
dan terjemahan novel barat.
Karya Sastra Angkatan Melayu Lama :
|
|
|
3. Angkatan
Balai Pustaka
Angkatan Balai Pusataka merupakan karya
sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh
penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman,
novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai
menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah
sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" karena ada banyak sekali karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya. Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis pada masa itu.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" karena ada banyak sekali karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya. Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis pada masa itu.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai
Pustaka:
·
Azab
dan Sengsara (1920)
·
Binasa kerna Gadis
Priangan (1931)
·
Cinta dan Hawa Nafsu
·
Siti
Nurbaya (1922)
·
La Hami (1924)
·
Anak dan
Kemenakan (1956)
·
Tanah Air (1922)
·
Indonesia, Tumpah
Darahku (1928)
·
Kalau Dewi Tara Sudah
Berkata
·
Ken Arok dan Ken
Dedes (1934)
·
Apa Dayaku karena Aku
Seorang Perempuan (1923)
·
Cinta yang Membawa
Maut (1926)
·
Salah Pilih (1928)
·
Karena Mentua (1932)
·
Tuba Dibalas dengan
Susu (1933)
·
Hulubalang
Raja (1934)
·
Katak Hendak Menjadi
Lembu (1935)
·
Tak Disangka (1923)
·
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
·
Tak Membalas
Guna (1932)
·
Memutuskan
Pertalian (1932)
·
Darah Muda (1927)
·
Asmara Jaya (1928)
·
Pertemuan (1927)
·
Salah
Asuhan (1928)
·
Pertemuan
Djodoh (1933)
·
Menebus Dosa (1932)
·
Si Cebol Rindukan
Bulan (1934)
·
Sampaikan Salamku
Kepadanya (1935)
4. Angkatan Pujangga Baru
Pujangga
Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai
Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap
karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra
Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
- Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi
Pane dan Tengku Amir Hamzah
- Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang
dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Pujangga Baru :
|
·
Dian Tak Kunjung
Padam (1932)
·
Tebaran Mega -
kumpulan sajak (1935)
·
Layar
Terkembang (1936)
·
Anak Perawan di Sarang
Penyamun (1940)
·
Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
·
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939)
·
Tuan
Direktur (1950)
·
Didalam Lembah
Kehidoepan (1940)
·
Belenggu (1940)
·
Jiwa Berjiwa
·
Gamelan Djiwa -
kumpulan sajak (1960)
·
Djinak-djinak
Merpati - sandiwara (1950)
·
Kisah Antara
Manusia - kumpulan cerpen (1953)
·
Habis Gelap Terbitlah Terang -
Terjemahan Surat R.A. Kartini (1945)
·
Pancaran
Cinta (1926)
·
Puspa Mega (1927)
·
Madah
Kelana (1931)
·
Sandhyakala Ning
Majapahit (1933)
·
Kertajaya (1932)
·
Nyanyi
Sunyi (1937)
·
Begawat
Gita (1933)
·
Setanggi
Timur (1939)
|
·
Bebasari: toneel dalam
3 pertundjukan
·
Pertjikan Permenungan
·
Kalau Tak
Untung (1933)
·
Pengaruh Keadaan (1937)
·
Ni Rawit Ceti Penjual
Orang (1935)
·
Sukreni Gadis
Bali (1936)
·
I Swasta Setahun di
Bedahulu (1938)
·
Rindoe Dendam (1934)
·
Kehilangan
Mestika (1935)
·
Pembalasan
·
Karena Kerendahan
Boedi (1941)
·
Karim
Halim
Palawija (1944) |
5. Angkatan
1945
Pengalaman hidup dan gejolak
sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra
angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang
romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita
tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil
Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul
"Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para
sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati
nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari
Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap
sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945 :
·
Kerikil Tajam (1949)
·
Deru
Campur Debu (1949)
- Asrul Sani, bersama Rivai
Apin dan Chairil Anwar
·
Tiga Menguak
Takdir (1950)
·
Dari Ave Maria ke Djalan
Lain ke Roma (1948)
·
Aki (1949)
·
Perempuan dan Kebangsaan
·
Atheis (1949)
·
Katahati dan
Perbuatan (1952)
·
Suling
(drama) (1948)
·
Tambera (1949)
·
Awal dan Mira -
drama satu babak (1962)
·
Kasih Ta'
Terlarai (1961)
·
Mentjari Pentjuri Anak
Perawan (1957)
·
Pertjobaan Setia (1940)
6. Angkatan
1950 - 1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya
majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin.
Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan
kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan
dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang
bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra)
yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik
yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal
tahun 1960;
menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis
dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an :
o
Kranji dan Bekasi
Jatuh (1947)
o
Bukan Pasar
Malam (1951)
o
Di Tepi Kali
Bekasi (1951)
o
Keluarga
Gerilya (1951)
o
Mereka yang
Dilumpuhkan (1951)
o
Perburuan (1950)
o
Cerita dari Blora (1952)
o
Gadis
Pantai (1965)
o
Dua Dunia (1950)
o
Hati jang
Damai (1960)
|
·
Purnawan Tjondronagaro
o
Mendarat
Kembali (1962)
o
Datang
Malam (1963)
|
7. Angkatan
1966 - 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan
terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar
Lubis. Semangat avant-garde sangat menonjol pada
angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam
aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus
kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak
membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada
angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo
Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil
Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan
Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha
Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin
C. Noer, Darmanto Jatman, Arief
Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad
Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing
Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966 :
o
Malu (Aku) Jadi Orang
Indonesia
o
Tirani dan Benteng
o
Buku Tamu Musim
Perjuangan
o
Sajak Ladang Jagung
o
Kenalkan
o
Saya Hewan
o
Puisi-puisi Langit
o
O
o
Amuk
o
Kapak
o
Meditasi (1976)
o
Potret Panjang Seorang
Pengunjung Pantai Sanur (1975)
o
Tergantung Pada
Angin (1977)
o
Dukamu
Abadi (1969)
o
Mata Pisau (1974)
o
Parikesit (1969)
o
Interlude (1971)
o
Potret Seorang Penyair
Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
o
Seks, Sastra, dan
Kita (1980)
·
Danarto
o
Godlob
o
Adam Makrifat
o
Berhala
·
Wildan Yatim
o
Pergolakan (1974)
o
Seribu Kunang-kunang di
Manhattan
o
Sri Sumarah dan Bawuk
o
Lebaran di Karet
o
Pada Suatu Saat di
Bandar Sangging
o
Kelir Tanpa Batas
o
Para Priyayi
o
Jalan Menikung
o
Hilanglah si Anak
Hilang (1963)
o
Gairah untuk Hidup dan
untuk Mati (1968)
·
Ismail Marahimin
o
Dan Perang Pun
Usai (1979)
|
o
Bila Malam Bertambah
Malam (1971)
o
Telegram (1973)
o
Stasiun (1977)
o
Pabrik
o
Gres
o
Bom
o
Perjalanan ke
Akhirat (1962)
o
Manifestasi (1963)
o
Dia, Hotel, Surat
Keputusan (1963)
o
Lesbian (1976)
o
Bukan
Rumahku (1976)
o
Pelabuhan
Hati (1978)
o
Pelabuhan
Hati (1978)
o
Monumen
Safari (1966)
o
Catatan Putih (1975)
o
Di Bawah Bayangan Sang
Kekasih (1978)
o
Hukla (1979)
o
Ziarah (1968)
o
Kering (1972)
o
Merahnya
Merah (1968)
o
Keong (1975)
o
RT Nol/RW Nol
o
Tegak Lurus Dengan Langit
·
M.A Salmoen
o
Masa
Bergolak (1968)
·
Parakitri Tahi Simbolon
o
Ibu (1969)
o
Warisan (1979)
o
Khotbah di Atas
Bukit (1976)
o
Lingkaran-lingkaran
Retak (1978)
·
Mahbub Djunaidi
o
Dari Hari ke Hari (1975)
·
Harijadi S.
Hartowardojo
o
Perjanjian dengan Maut(1976)
o
Empat Orang Melayu
o
Jalan Lurus
|
8. Angkatan
1980 - 1990an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu
setelah tahun 1980,
ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol
pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini
tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang
menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada
Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan
Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang
menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya
barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang
menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada
umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan
novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19
dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan
idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran
antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh
sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang
dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop
inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca
karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis
Indonesia yang dikomandani Titie Said,
antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah
Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an :
- Ladang Hijau (1980)
- Sajak Penari (1990)
- Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
- Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
- Sembahyang Rumputan (1997)
- Burung-burung Manyar (1981)
- Bako (1983)
- Dendang (1988)
o
Olenka (1983)
o
Rafilus (1988)
o
Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
o
Canting (1986)
o
Lupus - 28 novel (1986-2007)
o
Lupus Kecil - 13
novel (1989-2003)
o
Olga Sepatu
Roda (1992)
9. Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari
tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH
Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri,
muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya
angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun
novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik
sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka
rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas
pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak
bertema sosial-politik. Sastrawan Angkatan Reformasi
merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an,
seiring dengan jatuhnya Orde Baru.
Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi
kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu.
Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji
Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer,
dan Hartono Benny Hidayat dengan media online:
duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak
sosial-politik mereka.
Penulis dan karya sastra angkatan reformasi
Widji Thukul
- Puisi Pelo
- Darman
10. Angkatan
200-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, sepertiAfrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami danDorothea Rosa Herliany.
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, sepertiAfrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami danDorothea Rosa Herliany.
Penulis dan karya sastra angkatan 200-an :
·
Negeri 5 Menara (2009)
·
Ranah 3 Warna (2011)
·
Laskar Pelangi (2005)
·
Sang Pemimpi (2006)
·
Edensor (2007)
·
Maryamah Karpov (2008)
·
Padang
Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
·
Saman (1998)
·
Larung (2001)
·
Supernova 2: Akar (2002)
·
Supernova 3: Petir (2004)
·
Supernova 4: Partikel (2012)
·
Ayat-Ayat Cinta (2004)
·
Diatas Sajadah
Cinta (2004)
·
Ketika Cinta Berbuah
Surga (2005)
·
Pudarnya Pesona
Cleopatra (2005)
·
Ketika Cinta
Bertasbih 1 (2007)
·
Ketika Cinta Bertasbih
2 (2007)
·
Dalam Mihrab
Cinta (2007)
·
Garis Tepi
Seorang Lesbian (2003)
·
Dejavu,
Sayap yang Pecah (2004)
·
Jilbab
Britney Spears (2004)
·
Sajak Cinta
Yang Pertama (2005)
·
Malam Untuk
Soe Hok Gie (2005)
·
Rebonding
(2005)
·
Broken
Heart, Psikopop Teen Guide (2005)
·
Koella,
Bersamamu dan Terluka (2006)
·
Sebuah
Cinta yang Menangis (2006)
·
Pulau Cinta di Peta
Buta (2003)
·
Ziarah bagi yang
Hidup (2004)
·
Parang Tak
Berulu (2005)
·
Gugusan Mata
Ibu (2005)
·
Atas Nama Malam
·
Sepotong Senja untuk
Pacarku
·
Biola Tak Berdawai
Sumber
1.
Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia
1200-2004. London: MacMillan. hlm. 117.
2.
Mahayana, Maman S, Oyon Sofyan (1991). Ringkasan dan Ulasan
Novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo. hlm. 370.
3.
Yudiono (2007). Pengantar Sejarah Sastra Indonesia.
Jakarta: Grasindo. hlm. 167.
4.
wikipedia
5.
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Demikian pembahasan mengenai periodisasi beserta karya sastra yang
dihasilkan dari kurun waktu yang berbeda, semoga dapat bermanfaat.
terimakasih.
wassalamualaikum
wr wb



